Persoalan demi persoalan meruntun minda,
Seolah-olah terlalu banyak kekhilafan yang beraja,
Mungkin tanpa kita sedari,
Ataupun sudah tersurat untuk kita,
Dalam mengakui kesempurnaan diri kita semua.
Bibir pernah menutur kata-kata,
Telinga pernah mengamati setiap detik masa,
Tangan pernah berisyarat untuk menyata,
Kaki pernah melangkah ke arah destinasinya,
Perlukah dusta masih bertapak selamanya,
Untuk mempertahankan kesempurnaan sebagai mahkota.
Tinta –tinta kehidupan yang kian terlakar sendirinya,
Mencorakkan setiap warna-warna norma fitrahnya,
Melantunkun setiap tingkah-tingkah geraknya,
Mencoretkan setiap sisa-sisa hayatnya,
Hanya kerana ingin menebus suatu kepastian yang sirna,
Sempurnakah kita pada semua dan disisinya…


